Dilema ingin punya motor, antara keinginan dan trauma

Kejadian sepuluh tahun silam masih terus membayangiku, yaitu kejadian menggenaskan terperosok jurang yang dalam dan mematikan. Sisa trauma itu masih meninggalkan jejak disanubari, uhh…kadang aku  merasa takut dan saking takut tubuh menjadi panas dan demam, ya Allah trauma it uterus menyiksa. Aku lelaki, tetapi kejadian itu membuat kelelakianku menjadi drop.

Motor Honda Kharisma, motor kesayangan yang baru berusia enam bulan, harus kubiarkan terbakar dan membentu bebatuan bukit di tebing jurang. Dan hingga kini, baying-bayang motor kesayangan itu masih ada, dan seketika tanganku gemetar mengingat kronologi kejadian. Ya, Allah apa aku melihat neraka saat itu? Apa aku bersama malaikat maut saat itu? Apa aku ditertawakan bumi dan langit juga rerumputan saat itu? Apa ular-ular itu mengejekku, karena aku menjadi manusia yang sombong, yang tak bisa menyelamatkan diri saat terperosok ke dalam jurang. Ragaku sesaat itu tak berdaya, menikmati kepulan-kepulan asap kenangan diatas himpitan pohon asam. Uuhh…kenapa ini masih ada dalam diriku.

Sekarang aku punya tawaran dari teman bahkan ada beberapa dealer yang menawariku membeli sepeda motor dengan berbagai type motor dan rayuan jitu untuk agar aku segera membeli motor. Dilemma sendiri jadinya, ingin punya motor tapi bayang-bayang masa lalu masih menghias lorong jiwa. Aku pernah bermimpi ingin punya motor lagi meski rasa trauma masih belum bisa dihilangkan,

Bahkan teman pernah bilang,motor matic sangat cocok untuk anak muda zaman sekarang, ada juga motor sejenis FU atau apalah namanya, yah aku hanya bisa tersenyum dan mengaminkan semoga kelak aku punya pabrik motor sendiri J bukan hanya aku naiki kesana-kemari melainkan, melainkan aku jual dan dapat menciptakan lapangan kerja.

Impian itu biarlah tercatat dengan indah dalam daftar buku impian, punya motor sendiri yang keluar dari pabrik sendiri, biarkan Allah yang mengaminkan, bahwa aku dulu  pernah terperosok jurang bersama motor kesayanganku, tetapi kelak aku bisa punya usaha motor sendiri ( mohon diamini ya…J ).

Kadang ku irih hati sendiri, banyak teman, kesana-kemari bisa hiruk-pikuk dengan kendaraan sendiri, sementara aku hanya bisa berjalan kaki, naik bentor (becak bermotor khas Gorontalo), bahkan naik angkot untuk tujuan perjalan jauh. Mereka bisa kemana saja dengan mudah, sementara aku tidak, terlebih lagi memperhitungkan biaya yang aku miliki. Yah, sabar. Semua pasti berlalu, dan bukan motor menjadi tujuan utama meski itu adalah impian, ada hal lain yang aku rencanakan dan harus aku wujudkan.

Guest post by: Hardiyanto Takula

Iklan
This entry was posted in Tak Berkategori and tagged .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s